Selasa, 20 Desember 2011

Pendidikan Agama Islam Masa Dinasti Abbasiyah


BAB I
PENDAHULUAN

A.       Latar Belakang
Sejarah tak ubahnya dengan kacamata masa lalu yang menjadi pijakan dan langkah setiap insan di masa mendatang. Hal ini berlaku pula bagi kita para mahasiswa STAI Syarifuddin Wonorejo Kedung Jajang Lumajang untuk tidak hanya sekedar paham sains tapi juga paham akan sejarah peradaban Islam di masa lalu untuk menganalisa dan mengambil ibrah dari setiap peristiwa yang pernah terjadi. Seperti yang kita ketahui setelah tumbangnya kepemimpinan masa Khulafaurrasyidin maka berganti pula sistem pemerintahan Islam pada masa itu menjadi masa Dinasti, dan dalam makalah ini akan disajikan sedikit tentang masa Dinasti Abbasiyah.
Dinasti Abbasiyah merupakan Dinasti Islam yang paling berhasil dalam mengembangkan peradaban Islam. Para ahli sejarah tidak meragukan hasil kerja para pakar pada masa pemerintahan Dinasti Abbasiyah dalam memajukan ilmu pengetahuan dan peradaban Islam beserta ilmuwan yang berpengaruh pada masa Dinasti Abbasiyah.

B.       Rumusan Masalah
Dalam penyusunan makalah ini, peneliti merumuskan masalah sebagai berikut:
1.    Bagaiamana sejarah berdirinya Dinasti Abbasiyah?
2.    Bagaiamana perkembangan pendidikan agama Islam pada masa Dinasti Abbasiyah?
3.    Bagaiamana perkembangan ilmu-ilmu non keislaman pada masa Dinasti Abbasiyah?
4.    Lembaga pendidikan apa saja yang ada pada masa Dinasti Abbasiyah?


C.       Tujuan
Berdasarkan rumusan masalah diatas, tujuan penulisan  makalah ini adalah mendeskripsikan tentang:
1.    Sejarah berdirinya Dinasti Abbasiyah.
2.    Perkembangan pendidikan agama Islam pada masa Dinasti Abbasiyah.
3.    Perkembangan ilmu-ilmu non keislaman pada masa Dinasti Abbasiyah.
4.    Lembaga pendidikan yang ada pada masa Dinasti Abbasiyah.
















BAB II
PEMBAHASAN

A.       Sejarah Berdirinya Dinasti Abbasiyah
Berdirinya Dinasti Abbasiyah diawali dengan dua strategi, yaitu: pertama, dengan system mencari pendukung dan penyebaran ide secara rahasia. Kedua, dilanjutkan dengan terang-terangan dan himbauan di forum-forum resmi untuk mendirikan Dinasti Abbasiyah yang berlanjut dengan peperangan melawan Dinasti Umawiyah. Dari dua strategi yang diterapkan oleh Muhammad bin Al-‘Abasy dan kawan-kawannya sejak akhir abad pertama sampai 132 H akhirnya membuahkan hasil dengan berdirinya Dinasti Abbasiyah.
Pendirian Dinasti Abbasiyah tidaklah semudah membalikkan telapak tangan, tetapi memerlukan tenaga dan usaha-usaha yang sampai mengorbankan nyawa dalam jumlah yang tidak sedikit. Hal ini bias dilihat dari peperangan yang terjadi antara Dinasti Umawiyah dan pendukung berdirinya Dinasti Abbasiyah seperti peristiwa 11 Jumadil al-Akhirah 132 H dalam waktu itu terbunuh 300 orang dari Dinasti Umawiyah dan termasuk Ibrahim bin al-Walid bin Abdil Malik saudara dari Yazid. Seperti dikatakan: terbunuhnya Marwan bin Muhammad malam Ahad 3 Dzulhijjah 132 H dan dikirim kepalanya kepada Asyafah di Kuffah dan berakhirlah Dinasti Umawiyah dengan kematiannya pada usia 65 tahun 9 bulan dan beberapa hari.[1]
Faktor-faktor pendorong berdirinya Dinasti Abbasiyah dan penyebab suksesnya antara lain:
1.    Banyak terjadi perselisihan antara intern bani Umawiyah pada dekade terakhir pemerintahannya, hal ini diantara penyebabnya adalah memperebutkan kursi kekhalifahan dan harta.
2.    Pendeknya masa jabatan khalifah di akhir-akhir pemerintahan Bani Umawiyah, seperti khalifah Yazid bin Walid lebih kurang memerintah sekitar 6 bulan.
3.    Dijadikan putra mahkota lebih dari jumlah satu orang seperti yang di kerjakan oleh Marwan bin Muhammad yang menjadikan Abdullah dan Ubaidillah sebagai putra mahkota.
4.    Bergabungnya sebagai afrad keluarga Umawi kepada madzhab-madzhab agama yang tidak benar menurut syari’ah, seperti al-Qadariyah.
5.    Hilangnya kecintaan rakyat pada akhir-akhir pemerintahan Bani Umawiyah.
6.    Kesombongan pembesar-pembesar Bani Umawiyah pada akhir pemerintahannya.
7.    Timbulya dukungan dari Al-Mawali (non-Arab).[2]
B.       Perkembangan Pendidikan Agama Islam pada Masa Dinasti Abbasiyah
Pengaruh dari kebudayaan bangsa yang sudah maju, terutama melalui gerakan terjemahan, membawa kemajuan dibidang ilmu pengetahuan agama. Dinasti Abbasiyah merupakan salah satu dinasti Islam yang sangat peduli dalam upaya pengembangan ilmu pengetahuan. Upaya ini mendapat tanggapan yang sangat baik dari para ilmuwan. Sebab pemerintahan dinasti abbasiyah telah menyiapkan segalanya untuk kepentingan tersebut. Diantara fasilitas yang diberikan adalah pembangunan pusat-pusat riset dan terjemah seperti baitul hikmah, majelis munadzarah dan pusat-pusat study lainnya. Pengembangan ilmu pengetahuan keagamaan antara lain:
a.    Ilmu Hadis
Dalam bidang ilmu hadits, penulisan hadis juga berkembang pesat pada masa bani Abbas. Hal itu mungkin terutama disebabkan oleh tersedianya fasilitas dan transportasi, sehingga memudahkan para pencari dan penulis hadis bekerja, dan hadis merupakan sumber hukum kedua setelah Al-Qur’an.
Diantara tokoh yang terkenal di bidang ini adalah:
1.    Imam Bukhari,
Nama lengkapnya adalah Abu Abdullah Muhammad bin Ismail bin Ibrahim bin al-Mughirah bin Bardzibah al-Bukhari. Beliau lahir di Bukhara tahun 810 M dan meninggal di Khartanah tahun 870 M. Hasil karyanya yaitu kitab al-Jami’ al-Shahih al-Bukhari, at-Tarikh as-Sagir, at-Tarikh al-Ausat, Tafsir al-Musnad al-Kabir, Kitab al-Illal, Kitab ad-Duafa, Asami as-Sahab, dan Kitab al-Kura.
2.    Imam Muslim
Nama lengkapnya adalah  Abu al-Husain Muslim bin al-Hajjaj al-Qusyairi an-Nisaburi. Beliau lahir di Nisabur tahun 817 M dan meninggal tahun 875 di kota yang sama. Dalam rawi hadits, Imam Bukhari dan Imam Muslim sering disebut Syaikhani (Dua Syekh). Hasil karyanya yaitu kitab al-Jami’ al-shahih al-muslim. Para ulama’ menempatkan kitab Sahih Muslim pada peringkat kedua sesudah Sahih Bukhari.
3.    Ibnu Majjah
Nama lengkapnya adalah Abu Abdillah Muhammad bin Yazid ar-Raba’I al-Qazwani. Majah adalah gelar bagi Yazid. Beliau lahir di Irak pada tahun 824 M dan meninggal pada tahun 887 M. Karya beliau dalam bidang hadits adalah Suna Ibnu Majah.
4.    Abu Daud
Nama lengkapnya adalah Abu Dawud Sulaiman bin al-asy’as bin Ishaq bin Basyir bin Syidad bin Amr bin Amran al-Azdi as-Sijistani. Beliau lahir di Bagdad pada tahun 817 M dan wafat di Basra pada tahun 888 M. Abu Dawud menulis kitab hadits, yaitu Sunan Abu Dawud.
5.    At-Tirmidzi
Nama lengkapnya adalah Abu Isa Muhammad bin Isa bin Saurah bin Musa bin Da Dahlat as-Sulami al-Bugi. Beliau lahir di Termez, Tajikistan pada tahun 209 H dan meninggal pada tahun 279 H ditempat yang sama. Dalam bidang hadits, at_Tirmizi adalah murid Imam Bukhari. Pendapat Imam Bukhari tentang nilai hadits sering ditampilkan dalam karyanya, Sunan at-Tirmizi.
6.    An-Nasa’i[3]
Nama lengkaanya adalah Ahmad bin Syu’aib bin Ali bin Bahr bin sinan. Beliau lahir di Nasa’, Khurasan pada tahun 830 M dan meninggal di Damaskus pada tahun 915 M. An-Nasa’I menulis beberapa kitab, as-Sunan al-Kubra, as-Sunan al-Mujtaba’, Kitab Tamyiz, Kitab ad-Du’afa’, Khasa’is Amirul Mu’minin Ali bin Abi thalib, Musnad Ali, dan Musnad Malik.
b.    Ilmu Tafsir
Dalam bidang tafsir, sejak awal sudah dikenal dua metode penafsiran, Pertama, tafsir bi al-ma’tsur yaitu, interpretasi tradisional dengan mengambil interpretasi dari Nabi SAW dan para sahabatnya. Kedua, tafsir bial-ra’yi yaitu metode rasional yang lebih banyak bertumpu kepada pendapat dan pikiran dari pada hadis dan pendapat sahabat. Kedua metode ini memang berkembang pada masa pemerintahan Abbasiyah, akan tetapi jelas sekali bahwa tafsir dengan metode bi al ra’yi (tafsir rasional), sangat dipengaruhi oleh perkembangan pemikiran filsafat dan ilmu pengetahuan. Diantara tokoh-tokoh mufassir adalah imam al-Thabary, al-sud’a muqatil bin Sulaiman.
c.    Ilmu Fiqih
Dalam bidang fiqih para fuqaha’ yang ada pada masa bani abbasiyah mampu menyusun kitab-kitab fiqih terkenal hingga saat ini. Imam-imam mazhab hukum yang empat hidup pada masa pemerintahan Abbasiyah. Pertama. Imam Abu Hanifah (700-767 M) dalam pendapat-pendapat hukumnya di pengaruhi oleh perkembangan yang terjadi di Kuffah, kota yang berada di tengah-tengah kebudayaan Persia yang hidup kemasyarakatannya telah mencapai tingkat kemajuan yang lebih tinggi, karena itu mazhab ini lebih banyak menggunakan pemikiran rasional dari pada hadis. Imam Abu Hanifah menyusun kitab musnad al-Imam al-a’dzam atau fiqih al-akbar. Muridnya dan sekaligus pelanjutnya, Abu Yusuf, menjadi Qodhi Al-Qudhal dizaman Harun Al-Rasyid.
Berbeda dengan Abu Hanifah, imam Malik (713-795 M) banyak menggunakan hadis dan tradisi masyarakat madmah. Imam Malik menyusun kitab al-muwatha’. Pendapat dua tokoh mazhab hukum ditengahi oleh imam Syafi’i (767-820 M) dan imam Ahmad ibn Hambal (780-855 M). Imam Syafi’i menyusun kitab al-Umm dan fiqih al-akbar fi al tauhid dan  imam Ibnu Hambal menyusun kitab al musnad ahmad bin hambal.
Disamping empat pendiri mazhab besar tersebut, pada masa pemerintahan bani Abbas banyak mujtahid mutlak lain yang mengeluarkan pendapatnya secara bebas dan mendirikan mazhabnya pula, akan tetapi karena pengikutnya tidak  berkembang pemikiran dan mazhab itu hilang bersama berlalunya zaman. Aliran teologi sudah ada sejak masa bani Umayah, seperti khawarij, murji’ah, dan mu’tazilah, akan tetapi perkembangan pemikirannya masih terbatas. Teologi rasional mu’tazilah muncul diujung pemerintahan bani Umayah. Namun pemikirannya yang sudah kompleks dan sempurna baru dirumuskan pada masa pemerintahan bani Abbas periode pertama.
d.    Ilmu Tasawuf
Kecenderungan pemikiran yang bersifat filosofi menimbulkan gejolak pemikiran diantara umat islam, sehingga banyak diantara para pemikir muslim mencoba mencari bentuk gerakan lain seperti tasawuf.
Ilmu tasawuf adalah ilmu hakekat yang pada intinya mengajarkan penyerahan diri kepada tuhan, meninggalkan kesenangan dunia dan hidup menyendiri untuk beribadah kepada Allah. Ilmu ini banyak berpengaruh dalam kehidupan masyarakat Islam setelah serangan bangsa Mongol dan hancurnya pusat peradaban islam  Bagdad. Praktek mistik ajaran agama lain. Sehingga disana ditemukan adanya penyimpangan ajaran. Begitupun soal taqlid, karena masyarakat Islam tidak mau berijtihad lagi, akhirnya terikat dengan ajaran para tokoh sebelumnya dan bertaqlid buta. Bersamaan dengan lahirnya ilmu tasawuf pada zaman Dinasti Abbasiyah, muncul pula ahli-ahli dan ulama’-ulama’nya, di antara mereka itu adalah:
1.    Al Qusyairi yaitu abu kasim Abdul Karim bin Hawazin al Qusyairi, wafat tahun 465 H. Kitab tasawuf yang terkenal ”Ar Risalatul Qusyairi”.
2.    Syahabuddin, yaitu Abu Hafas Umar bin Muhammad Syahabuddin Sahrawardy, wafat di Bagdad tahun 632 H. Kitab tasawufnya ”Awaritul Ma’arif”.
3.    Imam Ghazali, yaitu Muhammad bin Muhammad bin Ahmad Al Ghazali lahir di Thus dalam abad ke V H. Meninggal pada tahun 502 H. Dalam Fiqh menganut mazhab Syafi’i, beliau membawa aliran baru dalam dunia tasawuf dengan kitabnya Ihya Ulumuddin.
4.    Dzu al-Nun Al-Mishri, ia dilahirkan di Mesir pada tahun 190-an Hijriah, dikenal sebagai pengkritik prilaku ahli hadis-Ulama fiqh, Hadis, dan teologi- yang dinilai mempunyai perselingkuhan dengan duniawi, sebuah kritikan yang membuat para Ahlu al-Hadist kebakaran jenggot dan mulai menyebut al-Mishri sebagai Zindiq, pada tingkat penolakan yang kuat oleh ahlu al-hadist membuat ia memutuskan untuk pergi ke Baghdad yang saat itu dipimpin oleh khalifah al-Mutawakkil, setelah ia diterima oleh khalifah dan dikenal dalam lingkungan istana, pihak Mesir pun menjadi segan kepadanya, al-Mishri dikenal sebagai orang pertama yang mengenalkan maqamat dalam dunia sufi dan telah dikenal sebagai sufi yang dikenal luas oleh para peneliti tasawuf. Pemikirannya menjadi permulaan sistematisasi perjalanan ruhani seorang sufi. Ia meninggal pada tahun 245 H di Qurafah Shugra dekat Mesir.
5.    Surri al-Saqathi pada 253 H, ia mengenalkan uzlah-uzlah yang sebelumnya hanya dikenal sebagai tindakan menyendiri secara personal, dikembangkan al-Saqathi menjadi “uzlah kolektif”, uzlah yang ditujukan untuk menghindari kehidupan duniawi yang melenakan ataupun kehidupan duniawi yang penuh degan pertentangan, intrik dan pertumpahan darah. Pada masa-masa diatas telah mulai dikenal istilah sufi di beberapa kalangan, sebuah sebutan bagi mereka yang menghindari secara ketat terhadap kesenangan duniawi dan memilih untuk memfokuskan diri pada perkara uhkrawi (kelak konsep uzlah inilah yang banyak dianut oleh tasawuf sunni dikemudian hari).
6.    Abu Yazid al-Bustami pada 260 H/873 M, seorang sufi Persia yang mulai mengenalkan konsep ittihad atau penyatuan asketis dengan Tuhan, penyatuan tersebut menurutnya dilalui dengan beberapa proses, mulai fana’ dalam dicinta, bersatu dengan yang dicinta, dan kekal bersamanya. Wajar jika al-Bistami dianggap oleh Nicholson sebagai pendiri tasawuf dengan ide orisinil tentang wahdatul wujud di timur sebagaimana theosofi yang meruapakan kekhasan pemikiran Yunani. Pengaruh Abu Yazid saat itu sangat luas bukan hanya di dunia muslim tapi menembus hingga batas-batas agama. Tapi tentu ungkapan-ungkapan al-Bistami telah menghadirkan pertentangan dengan Ulama’ Hadis, mereka mengcam pandangan-pandangan pantheisme al-Bistami yang di anggap sesat.
7.    Al-Junaidi pada 297 H/909 M hadir dengan coba mengkompromikan tasawuf dengan syariat, hal ini ia lakukan setelah melihat banyaknya pro-kontra antara sufi dan ahlu al-hadis di masanya, lagi pula al-Junaid juga mempunyai basik sebagai seorang ahli hadis dan fiqh. Dengan apa yang dilakukannya, al-Junaid berharap kalangan ortodoksi Islam tidak menghakimi kaum tasawuf sebagai kaum yang sesat. Dan rupanya al-Junaid berhasil, minimal ia telah mengubah cara pandang kalangan ortodoksi terhadap tasawuf.
8.    Al-Kharraj (277 H) yang juga menelurkan karya-karya kompromistis antara ortodoksi Islam dan tasawuf.
9.    Al-Hallaj, murid al-Junaid yang hidup pada 244-309 H/858-922 M hadir dengan lebih berani dan radikal, sufi yang juga pernah berguru pada para guru sufi di bashra ini hadir dengan konsep hulul yaitu konsep wahdatul wujud dalam versi yang lain, jika al-Bistami memulainya dengan fana’ fillah, maka al-Hallaj mengemukakan pemikiran al-hulul yang berangkat dari dua sifat yang dipunyai manusia yaitu nasut dan lahut dengan cara mengosongkan nasut dan mengisinya dengan sifat lahut maka manusia bisa ber-inkarnasi dengan Allah atau yang terkenal dengan istilah hulul, dan seterusnya. Al-Hallaj tidak memakai tedeng aling-aling dalam menceritakan pengalaman spiritualnya dalam khalayak umum, baginya yang ada hanyalah Allah, tidak ada sesuatu pun yang harus ditutupi dari sebuah kebenaran, baginya kecintaan pada Allah dan “persetubuhan” dengan Allah dapatlah diraih, bahkan saat al-Hallaj dipasung ia sempat berkata,”Ya Allah ampunilah mereka yang tidak tahu, seandainya mereka tahu tentu mereka tidak akan melakukan hal ini”.
Para sufi-sufi diatas kemudian diklasifikasikannya sebagai sufi falsafi dan sufi amali akhlaqi, diantara yang termasuk tasawuf falsafi adalah al-Hallaj, al-Farabi, dan al-Bistami, dan diantara yang menganut tasawuf amali adalah al-Junaid dan al-Kharraj. Kaum falsafi biasanya diidentikkan dengan konsep sakr (kemabukan) dan isyraqiyah (pancaran), adapun tasawuf amali atau akhlaqi biasanya diknal dengan konsep sahw (ketenangan hati) dan zuhd.
C.  Perkembangan Ilmu-Ilmu Non Keislman pada Masa Dinasti Abbasiyah
Bidang-bidang ilmu pengetahuan umum yang berkembang antara lain:
a.    Filsafat (Philosophia)
Proses penerjemahan yang dilakukan umat Islam pada masa dinasti bani abbasiyah mengalami kemajuan cukup besar. Para penerjemah tidak hanya menerjemahkan ilmu pengetahuan dan peradaban bangsa-bangsa Yunani, Romawi, Persia, Syuria tetapi juga mencoba mentransfernya ke dalam bentuk pemikiran.
Filsafat adalah induk Ilmu pengetahuan. Dari Filsafat berkembang ilmu-ilmu lain yang sangat dibutuhkan oleh manusia, sebab dengan adanya Filsafat, ilmu-ilmu tersebut mempunyai nilai radikalisme, hikmah dan bukan hanya pada karya kulitnya saja. Jika dikronologikan, maka derajat kebenaran dari hasil pemikiran adalah terletak pada kebenaran Ilmu, kebenaran Filsafat dan kebenaran yang tidak terbantahkan adalah kebenaran Agama.
Melihat fungsi Filsafat bagi umat Islam, maka para pakar keilmuan Islam di samping memahami Filsafat, ia juga seorang ulama yang sangat disegani kedalaman ilmunya, misalnya Imam Al Gazali, Ibnu Rusyd, Ibnu Thufail. Di samping itu, di antara mereka ada yang sangat menguasi ilmu-ilmu umum, misalnya kedokteran (Ibnu Shina). Tokoh-tokoh Filsafat yang ilmu dan pemikirannya sampai kepada kita, misalnya adalah:
1.   Abu Ishak Al Kindi (194 – 260 H / 809 – 873 M), buku karangannya sebanyak 236 judul.
2.   Abu Nasr Al Farabi (wafat 390 H / 916 M dalam usia 80 tahun) – orang Eropa menyebutnya dengan Al Pharabius. Karangannya yang masih tinggal ada 12 judul.
3.   Ibnu Bajjah (wafat tahun 523 H).
4.   Ibnu Thufail (wafat tahun 581 H).
5.   Ibnu Shina atau Avicena (370 – 428 H/980 – 1037 M), buku karangannya adalah Shafa (18 Jilid) Najaaat, Qonun, Sadidia (5 jilid), Danes Names, Najmul Hikmah (10 Jilid) dam Al Qonun Fi At Thib.
6.   Al Gazali (450 – 505 H/1058 – 1101 M), buku karangannya sejumlah 70 jilid, diantaranya adalah Al Munqidz minadl Dlalal, Tahafutul Falasifah, Mizanul Amal, Ihya Ulumuddin, Al Wajiz, Miyazul Ilmu dan Maqosidul Falasifah.
7.   Ibnu Rusyd atau Avveroes (520 – 595 H/1126 – 1198 M) bukunya antara lain Mabadiul Falasifah, Kulliyat, Thahafutut Thahafut, Tafsir Urjuza, Kasful Afillah, Bidayatul Mujtahid.
b.    Ilmu Kalam
Menurut A. Hasimy lahirnya ilmu kalam karena dua faktor: pertama, untuk membela Islam dengan bersenjatakan filsafat. Kedua, karena semua masalah termasuk masalah agama telah berkisar dari pola rasa kepada pola akal dan ilmu. Diantara tokoh ilmu kalam yaitu: Wasil bin Atha’, Baqilani, Asy’ary, Ghazali, Sajastani dan lain-lain.
c.    Ilmu Kedokteran
Ilmu kedokteran merupakan salah satu ilmu yang mengalami perkembangan yang sangat pesat pada masa Bani Abbasiyah pada masa itu telan didirikan apotek pertama di dunia, dan juga telah didirikan sekolah farmasi. Ilmu Kedokteran berasal dari Yunani dan dibawah ke dunia Islam oleh Sarjis Resh-Aini tahun 536. Perkembangan ilmu kedokteran di bagi menjadi tiga, yaitu masa permulaan, kemajuan dan kemunduran.
1.    Masa permulaan
a)    Jabir Ibnu Hayyan (778). Ia adalah dokter pertama dunia Islam yang menghasilkan buku-buku kedokteran sebanyak 500 buah (Kimia, Biologi dan Fisika). Buku yang masih menjadi referensi kedokteran dewasa ini adalah “Book of the Composition al Chemy” (1144) dan “Book of Seventy” (1187).
b)   Hunayn bin Ishaq; Ia adalah Dokter sekaligus seorang Filsafat. Ia menter-jemahkan buku-buku Filsafat (Aristoteles dan Plato) dan 130 buah ilmu pengobatan dari Gallen. Kegiatan penterjemahan tersebut dilanjutkan oleh kedua anaknya; Ishaq dan Hubaisy. Karya-karya yang terkenal adalah “Materia Medica” yang merupakan komentar dari buku karya Bioscurides, dan Question of Medicine (komentar terhadap buku kedokteran Gallen).
c)    Abu Ishak Al Kindi; Ia seorang Filosof Arab pertama, juga seorang Dokter Islam yang terkenal. Ia ahli dalam pengobatan Mata sebagaimana dalam buku “Optics” (Ilmu mata) yang menjadi referensi pemikiran Roger Bacon.
2.    Masa kemajuan
a)    Ar Razi / Razes (Bagdad, 251-313 H/865-925 M.). Ia seorang dokter, sekaligus ahli Kimia yang diseganai. Karya-karyanya adalah Small-pax and Measless (Ilmu Campak dan Kolera), al Hawi (buku yg merupakan inti sari ilmu Kedokteran Yunani, Syiria dan Arab) dan Al Kimya (buku yang berisi tentang pembagian benda-benda kimia dan nama-nama zat Kimia). Buku Ilmu Campak dan Kolera, telah dicetak ulang sebanyak 40 kali.
b)   Ishak Yuda (Tunisia, 241-344 H/855-955 M.). Karya-karya yang terkenal adalah Contentine the African (1080), On Fevers (Penyakit malaria), On the Elements (memuat anasir/unsur kimia) dan buku On Urine (Kencing Batu).
c)    Ikhwanus Shafa (Bagdad. Abad 10 M). Karyanya yang terkenal adalah Ency-clopaedia Kedokteran (52 Jilid). Buku tersebut diterjemahkan bangsa Eropa dengan judul Breteren of Pority.
d)   Abu Nasr Al Farabi (Filosof Islam yang paling Faham terhadap pemikiran Aristoteles). Karya-karyanya yang terkenal dalam bidang kedokteran adalah Kunci Ilmu (Key of Sciences) 976 yang ditulis ulang oleh Muhammad al Khawarizmi dan buku Fihrist al Ulum (Indec of Sciences) 988, yang ditulis ulang oleh Ibnu Nadim.
e)    Abu Ali al-Hasan ibn al-Haitsami atau Al Hazen (Basrah, 355-424 H/960-1034 M). Ia adalah ahli penyakti mata sebagaimana yang ditulis dalam buku “Optics” (Ilmu Mata) dan “Light” (Ilmu yang mengkaji pengaruh cahaya terhadap mata). Ia terkenal sebagai orang yang menentang pendapat bahwa mata mengirim cahaya ke benda yang dilihat. Menurut teorinya yang kemudian terbukti kebenarannya bendalah yang mengirim cahaya ke mata kita.
f)     Ibnu Shina, dianggap sebagai Dokter yang paling berbakat di dunia Islam. Buku-bukunya menjadi Referensi Kedokteran sampai saat ini, misalnya Qonun Fi Ath Thib (Conon of Medicine).
g)    Al Bairuni (363-450 H/973-1048 M).
3.    Masa Kemunduran Islam
Pada masa kemunduran ini, ilmu kedokteran di Timur tidak banyak menghasilkan karya (Buku Dokter) yang terkenal, akan tetapi di Barat lahir seorang Filosof sekaligus ahli pengobatan yaitu Ibnu Rusyd (Averros).

d.    Ilmu Kimia
Ilmu kimia juga termasuk salah satu ilmu pengetahuan yang dikembangkan oleh kaum muslimin. Dalam bidang ini mereka memperkenalkan eksperimen obyektif. Hal ini merupakan suatu perbaikan yang tegas dari cara spekulasi yang ragu-ragu dari Yunani. Mereka melakukan pemeriksaan dari gejala-gejala dan mengumpulkan kenyataan-kenyataan untuk membuat hipotesa dan untuk mencari kesimpulan-kesimpulan yang benar-benar berdasarkan ilmu pengetahuan diantara tokoh kimia yaitu: Jabir bin Hayyan.
e.    Ilmu Hisab
Diantara ilmu yang dikembangkan pada masa pemerintahan abbasiyah adalah ilmu hisab atau matematika. Ilmu ini berkembang karena kebutuhan dasar pemerintahan untuk menentukan waktu yang tepat. Dalam setiap pembangunan semua sudut harus dihitung denga tepat, supaya tidak terdapat kesalahan dalam pembangunan gedung-gedung dan sebagainya.
Ilmuwan yang ahli dalam bidang ilmu hisab ini antara lain:
a)      Jabir al Isbily; menemukan cara perhitungan yang disebut dengan “Al Jabar”.
b)      Al Khawarizmi (835); menemukan sistem angka dan perhitungan matematik, ia juga ahli dalam bidang al Jabar dan Aritmatika.
c)      Al Battani’ atau Albatagnius menciptakan istilah perhitungan Trigonometri dengan unsur-unsur, seperti Sine (Jaib), Tangen dan Contangent.
d)      Omar al Khayyam, penemu persamaan kubik dan persamaan derajat.
e)      Umar al Farukhan – arsitek pembangunan kota Bagdad.
f)        Banu Nusa – ahli dibidang ilmu ukur.
f.      Sejarah
Pada masa ini sejarah masih terfokus pada tokoh atau peristiwa tertentu, misalnya sejarah hidup nabi Muhammad. Ilmuwan dalam bidang ini adalah Muhammad bin Sa’ad, Muhammad bin Ishaq

g.    Ilmu Bumi
Ahli ilmu bumi pertama adalah Hisyam al-Kalbi, yang terkenal pada abad ke-9 M, khususnya dalam studynya mengenai bidang kawasan arab.
h.    Astronomi
Ilmu astronomi atau perbintangan berkembang dengan baik, bahkan sampai mencapai puncaknya, kaum muslimin pada masa bani Abbasiyah mempunyai modal yang terbesar dalam mengembanngkan ilmu perhitungan. Mereka menggodok dan mempersatukan aliran-aliran ilmu bintang yang berasal atau dianut oleh Yunani, Persia, India, Kaldan. Dan ilmu falak arab jahiliyah. Diantara para ahli ilmu astronomi pada masa ini adalah:
1.    Al Fazzari, ia adalah seorang astronom yang menemukan “Astrolobe” (alat pengukur tinggi dan gerak bintang).
2.    Yunus al Misri; penemu Jam/alat pembagian waktu (Jam, Menit, dan Detik)
3.    Nasiruddin Ath Thusi (1274). Ia dikenal sebagai seorang astronom dengan bakat yang luar biasa. Dalam hidupnya, ia menulis sebanyak 16 buah buku astronomi dan 14 buku Matematika. Yang paling istimewa adalah buku Quadri Lateral yang menjadi dasar trigonometry, plenometry dan sperical. Khusus dalam bidang Ilmu perbintangan, ia membuat Observatorium Maragha (Asia kecil), membuat jadwal baru yang disebut dengan “Ilkhanian”, dan membuat Cincin pengukur gerhana Matahari dan Bulan serta Katulistiwa.
4.    Abu Wafa’, Seseorang menemukan jalan ketiga dari bulan, jalan kesatu dan kedua telah ditemukan oleh ilmuwan yang berkebangsaan Yunani . Ia juga seorang pakar yang menciptakan trigonometry, ruang sudut dan ruang penuh serta dasar perhitungan yang lain.
5.    Al Farghany (el Fraganus); menciptakan Compendium.



i.      Seni Sastra
Pada masa ini lahir pujangga dan penyair yang sangat besar. Karya-karya sastra yang sampai sekarang menjadi legenda adalah Alfu Laila Wa Laila dengan pujangganya yang sangat terkenal Abu Nawas.
D.  Lembaga Pendidikan pada Masa Dinasti Abbasiyah
Diantara bangunan-bangunan atau sarana untuk penndidikan pada masa Abbasiyah yaitu:
1.    Madrasah yang terkenal ketika itu adalah madrasah Annidzamiyah, yang didirikan oleh seorang perdana menteri bernama Nidzamul Mulk (456-486M). Bangunan madrasah tersebut tersebar luas di kota Bagdad, Balkan, Muro, Tabaristan, Naisabur dan lain-lain.
2.    Kuttab, yakni tempat belajar bagi para siswa sekolah dasar dan menengah.
3.    Majlis Munadharah, tempat pertemuan para pujangga, ilmuan, para ulama, cendikiawan dan para filosof dalam menyeminarkan dan mengkaji ilmu yangmereka geluti.
4.    Darul Hikmah, gedung perpustakaan pusat.[4]
Lembaga pendidikan tersebut dibagi kedalam dua jenis, yaitu pendidikan non formal dan pendidikan formal.
1.    Lembaga Pendidikan Non Formal
Adapun lembaga-lembaga pendidikan islam yang sebelum kebangkitan madrasah pada masa klasik, adalah:
a.         Suffah.
Pada masa Rasulullah SAW, suffah adalah suatu tempat yangdipakai untuk aktivitas pendidikan biasanya tempat ini menyediakan pemondokan bagi pendatang baru dan mereka yang tergolong miskindisini para siswa diajari membaca dan menghafal al-qur’an secara benar dan hukum islam dibawah bimbingan langsung dari Nabi, dalam perkembangan berikutnya, sekolah shuffah juga menawarkan pelajaran dasar-dasar menghitung, kedokteran, astronomi, geneologi dan ilmu filsafat.
b.        Kuttab atau maktab.
Kuttab atau maktab berasal dari kata dasar yang sama, yaitu kataba yang artinya menulis. Sedangkan kuttab atau maktab berarti tempat untuk menulis atau tempat dimana dilangsungkan kegiatan tulis menulis.
Bahkan dalam perkembangan kuttab dibedakan menjadi dua, yaitu kuttab yang mengajarkan pengetahuan non agama (secular learning) dan kuttab yang mengajarkan ilmu agama (religius learning). Dengan adanya perubahan kurikulum tersebut dapat dikatakan bahwa kuttab pada awal perkembangan merupakan lembaga pendidikan yang tertutup dan setelah adanya persentuhan dengan peradaban helenisme menjadi lembaga pendidikan yang terbuka terhadap pengetahuan umum, termasuk filsafat.
c.         Halaqah.
Halaqah artinya lingkaran. Artinya proses belajar mengajar disinidilaksanakan dimana murid dan meringkari gurunya. Seorang guru biasanya duduk dilantai menerangkan, membacakan karangannya, atau memberikan komentar atas karya pemikiran orang lain. Kegiatan dihalaqah ini tidak khusus untuk megajarkan atau mendiskusikan ilmu agama, tetapi juga ilmu pengetahuan umum, termasuk filsafat.
d.        Majlis.
Istilah majlis telah dipakai dalam pendidikan sejak abad pertamaislam, mulanya ia merujuk pada arti tempat-tempat pelaksanakan belajar mengajar. Pada perkembangan berikutnya disaat dunia pendidikan islam mengalami zaman keemasan, majlis berarti sesi dimana aktivitas pengajaran atau berlangsung. Seiring dengan perkembangan pengetahuan dalam islam, majlis digunakan sebagai kegiatan transfer ilmu pengetahuan sebagai majlis banyak ragamnya, menurut Muniruddin Ahmad ada 7 (tujuh) macam majlis, sebagai berikut: a) Majlis al-hadits;  b) Majlis al-tadris; c) Majlis al-manazharah d) Majlis muzakarah; e) Majlis al-syu’ara f) Majlis al-adab; g) Majlis al-fatwa dan al-nazar. 
e.         Masjid
Semenjak berdirinya di zaman Nabi SAW, masjid telah menjadi pusat kegiatan dan informasi berbagai masalah kaum muslimin, baik yangmenyangkut pendidikan maupun sosial ekonomi. Namun, yang lebih penting adalah sebagai lembaga pendidikan. Perkembangan masjid sangat signifikan dengan perkembangan yang terjadi di masyarakat, terlebih lagi pada saat masyarakat islam mengalami kemajuan. Urgensi masyarakat terhadap masjid menjadi semakin kompleks, hal ini menyebabkan karakteristik masjid berkembang menjadi dua bentuk yaitu mesjid sebagai tempat sholat jum’at atau jamidan masjis biasa.Kurikulum pendidikan dimasjid biasanya merupakan tumpuan pemerintah untuk memperoleh pejabat-penjabat pemerintah, seperti,qodhi, khotib dan iman masjid.
f.      Khan
Khan biasanya difungsikan sebagai penyimpanan barang-barang dalam jumlah besar atau sebagai sarana komersial yang memiliki banyak toko, seperti, khan al Narsi yang berlokasi di alun-alun Karkh di Bagdad.
g.         Ribarth.
Ribath adalah tempat kegiatan kaum sufi yang ingin menjauhkan diri dari kehidupan duniawi dan mengkonsentrasikan diri untuk semata-mata ibadah.
h.         Rumah Ulama.
Rumah sebenarnya bukan temapat yang nyaman untuk kegiatan belajar mengajar, namun para ulama di zaman klasik banyak yang mempergunakan rumahnya secara ikhlas untuk kegiatan belajar mengajar dan pengembangan ilmu pengetahuan.

i.      Toko-toko buku dan perpustakaan.
Toko-toko buku memiliki peranan penting dalam kegiatan keilmuan islam, pada awalnya memang hanya manjual buku-buku, tetapi berikutnya menjadi sarana untuk berdiskusi dan berdebat, bahkan pertemuan rutin sering dirancang dan dilaksanakan disitu. Disamping took buku, perpustakan juga memilki peranan penting dalam kegiatan transfer keilmuan islam.
j.     Rumah sakit.
Rumah sakit pada zaman klasik bukan saja berfungsi sebagai tempat merawat dan mengobati orang-orang sakit, tetapi juga mendidik tenaga-tenaga yang berhungan dengan perawatan dan pengobatan. Pada masa itu, percabaan dalam bidang kedokteran dan obat-obatan dilaksanakan sehingga ilmu kedoteran dan obat-obatan cukup pesat. Rumah sakit juga merupan tempat praktikum sekolah kedoteran yang didirikan diluar rumah sakit, rumah sakit juga berfungsi sebagai lembaga pendidikan .
k.        Badiah (padang pasir, dusun tempat tinggal badui)
Badiah merupakan sumber bahasa arab yang asli dan murni, dan mereka tetap mempertahankan keaslian dan kemurnian bahasa arab. Oleh karena itu badiah-badiah menjadi pusat untuk pelajaran bahasa arab yang asli dan murni. Sehingga banyak anak-anak khalifah, ulama-ulama dan para ahli ilmu pengetahuan pergi ke badiah-badiah dalam rangka mempelajari bahasa dan kesusastraan arab. Dengan begitu badiah-badiah telah berfungsi sebagai lembaga pendidikan.[5]
2.      Lembaga Pendidikan Non Formal
a.      Madrasah
Beberapa paradigma dapat digunakan dalam memandang sejarahdan motivasi pendirian madrasah. Paling tidak ada 3 teori tentang timbulnya madrasah:
1.        Madrasah selalu dikaitkan dengan nama Nidzam al-Mulk (W. 485H/1092 M), salah seorang wajir dinasti saljuk sejak 456 H/1068 M sampai dengan wafatnya, dengan usahanya membangun madrasah Nizhamiyah diberbagai kota utama daerah kekuasaan saljuk begitu dominannya peran Nidzam al-Mulk adalah orang pertama yangmembangun madrasah. 
2.        Menurut al-makrizi, ia berasumsi bahwa madrasah pertama adalah madrasah nizhamiyah yang didirikan tahun 457 H.
3.        Madrasah sudah eksis semenjak awal islam seperti bait al-hikmahyang didirikan Al-Makmun di Bagdad abad ke-3 H.
Dari informasi diterima diatas dapat diketahui bahwa madrasahyang pertama di Nisyapur. Namun demikian, madrasah itu kurang dikenal mengingat motivasi pendirian madrasah itu sendiri pada waktu itu masih bersifat ahliyah (keluarga) berdasarkan wakaf keluarga dan sejarah barumencatat sesuatu bila telah menjadi fenomena yang meluas. Lahirnya lembaga pendidikan formal dalam bentuk madrasah merupakan pengembangan dari sistem pengajaran dan pendidikan yang pada awalnya berlangsung di masjid-masjid.
Disisi lain, syalabi mengemukakan bahwa perkembangan dari masjid ke madrasah terjadi secara tidak langsung, menurutnya madrasah sebagai konsekuensi logis dari semakin ramainya pengajian di masjid yang fungsi utamanya adalah ibadah. Agar tidak kegiatan ibadah, dibuatlah tempat khusus untuk belajar yang dikenal madrasah. Dengan berdirinya madrasah, maka pendidikan islam mesasuki periode baru. Yaitu pendidikan menjadi fungsi bagi negara dan madrasah-madrasah dilembagakan untuk tujuan pendidikan sektarian dan indoktrinasi politik.
Meskipun madrasah sebagai lembaga pendidikan dan pengajaran didunia islam baru timbul sekitara abad ke-14 H, ini bukan berarti bahwa sejak awal perkembangannya islam tidak mempunyai lembaga pendidikan dan pengajaran. Pada awal telah berdiri madrasah yang menjadi cikal bakal munculnya madrasah nizamiyah, madrasah tyersebut berada diwilayah Persia, tepatnya di daerah Nisyapur, misalnya madrasah al- baihaqiyah, madrasah sa’idiyah dan madrasah yang terdapat di Khusan.
a)        Madrasah Nizamiah, didrikan oleh Nizam al Mulk, perdana menteri Saljuk pada tahun 1065 M – 1067 M. Pada tiap-tiap kota Nizam al Mulk mendirikan satu madrasah besar, di antaranya di Baghdad, Balkh, Naisabur, Harat, Asfahan, Basran, Marw, dan Mausul. Tetapi madrasah Nizamiah Baghdad adalah madrasah yang terbesar dan terpenting. Tujuan Nizam al Mulk mendirikan madrasah-madrasah itu adalad untuk menperkuat pemerintahan Turki Saljuk dan untuk menyiarkan madzhab keagamaan pemerintahan. Madrasah Nizamiah Baghdad, Madrasah ini didirikan di dekat pinggir sungai Dijlah, di tengah-tengah pasar Selasah di Baghdad pada tahun 457 H. Guru-guru madrasah ini diantaranya Abu Ishaq as Syiraji (guru tetap), Abu Nasr as Sabagh, Abul Qasim al `Alawi, Abu Abdullah al –Thabari, Abu Hamid al Ghazali, Radliyudin al Kazwaeni dan al Fairuz Abadi. Rencana pengajaran adalah ilmu syari`ah dan ilmu fiqh dalam 4 madzhab.
b)        Madrasah Nuruddin Zinki, didirikan oleh Nuruddin Zinki di Damaskus. Madrasah-madrasah yang didirikannya yaitu madrasah an Nuriyah al Qubra di Damaskus (563 H). Gedung madrasah terdiri dari iwan (aula tempat kuliah), masjid, tempat istirahat untuk guru, asrama, tempat tinggal pesuruh madrasah, kamar kecil, dan lapangan. Madrasah lainnya yaitu madrasah yang didirikan pada masa al Ayubi dan madrasah al Mustansiriah di Baghdad (Irak) tahun 631 H. Madrasah al Mustansiriah didirikan oleh khalifah Abasyi al Mustansir Billah pada tahun 631 H. Ilmu-ilmu yang diajarkan yaitu ilmu al Qur`an, syari`ah, bahasa Arab, kedokteran, dan ilmu pasti.
b.      Perguruan Tinggi;
a)    Baitul Hikmah di Baghdad, didirikan pada amasa Harun al Rasyid (170-193 H), kemudian diperbesar oleh khalifah al Ma`mun (198-218 H). Pada Baitul Hikmah bukan saja diajarkan ilmu-ilmu agama Islam, tetapi juga ilmu-ilmu pengetahuan seperti ilmu alam, kimia, falaq, dan lain-lain. Guru besar Baitul Hikmah adalah Salam, yang menguraikan teori-teori ilmu pasti dalam al Maj`sthi (almageste) kitab karangan Bathlimus (Ptolemee). Kemudian guru besar al Khawarazmi, ahli ilmu pasti, ahli falaq, dan pencipta ilmu al jabar, guru besar Muhammad bin Musa bin Syakir, seorang ahli ilmu ukur, ilmu bintang dan falaq. Di baitul Hikmah dikumpulkan buku-buku ilmu pengetahuan dalam bermacam-macam bahasa seperti bahasa Arab, Yunani, Suryani, Persia, India, dan Qibtia. Kemudian al Ma`mun mendirikan peneropong bintang yang disebut peneropong al Ma`muni. Setelah wafat al Ma`mun, maka Baitul Hikmah tidak mendapat perhatian penuh dari khalifah-khalifah.
b)   Darul `Ilmi di Kairo. Didirikan oleh al Hakim Biamrillah al Fathimi di pinggir sungai Nil untuk menyaingi Baitul Hikmah di Baghdad. Menurut keterangan al Makrizi, bahwa Darul `Ilmi didirikan di kampung al Kharun Fusy dengan perintah al Hakim Biamrillah al Fathimi. Ilmu yang diajarkan di antaranya; ilmu agama, falaq, kedokteran, dan berhitung.[6]





BAB III
PENUTUP

A.       Kesimpulan
1.    Sejarah Berdirinya Dinasti Abbasiyah
Dinasti Abbasiyah bediri diawali dengan dua strategi, yaitu: pertama, dengan system mencari pendukung dan penyebaran ide secara rahasia. Kedua, dilanjutkan dengan terang-terangan dan himbauan di forum-forum resmi untuk mendirikan Dinasti Abbasiyah yang berlanjut dengan peperangan melawan Dinasti Umawiyah. Dari dua strategi ini, akhirnya yang akhirnya membuahkan hasil dengan berdirinya Dinasti Abbasiyah pada tahun 132 H.
2.    Perkembangan Pendidikan Agama Islam pada Masa Dinasti Abbasiyah
Pengembangan ilmu pengetahuan keagamaan antara lain:
a.    Ilmu Hadis
Diantara tokoh yang terkenal di bidang ini adalah: a) Imam Bukhari (kitab al-Jami’ al-Shahih al-Bukhari); b) Imam Muslim (kitab al-Jami’ al-shahih al-muslim); c) Ibnu Majjah (Sunan Ibnu Majah); d) Abu Daud (Sunan Abu Dawud); e) At-Tirmidzi, (Sunan at-Tirmizi); f) An-Nasa’i.
b.    Ilmu Tafsir
Tokoh-tokoh mufassir pada masa Dinasti Abbasiyah adalah imam al-Thabary, al-sud’a muqatil bin Sulaiman.
c.    Ilmu Fiqih
Imam-imam mazhab hukum yang empat hidup pada masa pemerintahan Abbasiyah, Yaitu: a) Imam Abu Hanifah (700-767 M); b) Imam Malik (713-795 M); c) Imam Syafi’i (767-820 M); dan d) Ahmad ibn Hambal (780-855 M).
d.    Ilmu Tasawuf
Ilmuwan tasawuf pada zaman Dinasti Abbasiyah, di antaranya adalah: a) Al Qusyairi b) Syahabuddin; c) Imam Ghazali,; d) Dzu al-Nun Al-Mishri; e) Surri al-Saqathi; f) Abu Yazid al-Bustami; g) Al-Junaidi; h) Al-Kharraj; i) Al-Hallaj.
3.    Perkembangan Ilmu-Ilmu Non Keislman pada Masa Dinasti Abbasiyah
Bidang-bidang ilmu pengetahuan umum yang berkembang antara lain: a) Filsafat (Philosophia); b) Ilmu Kalam; c) Ilmu Kedokteran; d) Ilmu Kimia; e) Ilmu Hisab; f) Sejarah; g) Ilmu Bumi; h) Astronomi; i) Seni.
4.    Lembaga Pendidikan pada Masa Dinasti Abbasiyah
a.   Lembaga Pendidikan Non Formal
Adapun lembaga-lembaga pendidikan islam yang sebelum kebangkitan madrasah pada masa klasik, adalah: 1) Suffah; 2) Kuttab atau maktab; 3) Halaqah; 4) Masjid; 5) Khan; 6) Ribarth; 7) Rumah – Ulama; 8) Toko-toko buku dan perpustakaan; 9) Rumah sakit; 10) Badiah (padang pasir, dusun tempat tinggal badui).
b.  Lembaga Pendidikan Formal
1.    Madrasah
a)        Madrasah Nizamiah Baghdad
b)        Madrasah Nuruddin Zinki
2.    Perguruan Tinggi
a)        Baitul Hikmah di Baghdad
b)        Darul `Ilmi di Kairo.
B.       Saran-Saran
Dari penjelasan di atas kita sebagai umat Islam dapat mengambil pelajaran. Sebuah sistem yang teratur akan menghasilkan pencapaian tujuan yang maksimal, seperti kisah pendirian dinasti Abbasiyah. Mereka bisa mendirikan dinasti di dalam sebuah negara yang dikuasai suatu dinasti yang menomorduakan mereka.
Selain itu dari sejarah kekuasaan dinasti Abbasiyah ini kita juga bisa mengambil manfaat yang bisa kita rasakan sampai saat ini, yaitu perkembangan ilmu pengetahuan. Seharusnya kita yang hidup pada zaman modern bisa meneruskan perjuangan para ilmuwan zaman dinasti Abbasiyah dahulu.


[1]Samsul Nizar, Sejarah Pendidikan Islam, (Jakarta: Kencana, 2007), hal.65-66.
[2]Nizar, Sejarah Pendidikan Islam, hal.66.
[3]Darsono dan T. Ibrahim, Tonggak Sejarah Kebudayaan Islam, (Solo: PT. Tiga serangkai Pustaka Mandiri, 2006), hal. 20-25.
[4]Mahrus As’ad, Sejarah Kebudayaan Islam, (Bandung: CV Amirco, 1994), hal. 25-263
[5]Abuddin Nata, Sejarah Pendidikan Islam , (Jakarta: PT. Raja Grafika Persada, 2004), hal. 32-34.
[6]Mahmud Yunus, Sejarah Pendidikan Islam (Jakarta:  PT. Hida Karya Agung, 1992), hal. 90.

Tidak ada komentar: